Hujan menyeruakkan aroma bau tanah.
Daun-daun meneteskan rintik-rintik
hujan,
membawa pesan kehidupan kepada
yang dilaluinya.
Hari masih saja diguyur
hujan saat Lena membuka mata, tangannya masih memeluk erat boneka beruang. Lena
berjalan sambil terhuyung karena belum sadar betul dari tidurnya dan bingung
melihat bagian depan rumah yang sudah roboh. Melihat keluar rumah banyak pohon-pohon
tumbang, rumah roboh karena dihantam hujan dan angin semalam.
“Hujan marah?” pikir
Lena “Tapi marah kenapa? Mengapa sampai merobohkan rumah-rumah, menumbangkan
pohon-pohon? Hujan tidak mungkin melakukan semua ini. Hujan selalu membawa
pesan kehidupan kepada tanah yang dilaluinya.” Lena ketakutan, pelukan terhadap
boneka beruangnya semakin erat, matanya memandang jauh.
“Kenapa semuanya berubah dalam waktu
semalam?”
“Lena, ayo lekas bangun sudah siang, nanti
terlambat sekolah. Hari ini pertama masuk sekolahkan? katanya janji sama abah kalau sudah sekolah mau jadi
anak yang rajin...” Abah mencoba
membangunkan putrinya. Lena bangun dari tempat tidurnya sambil menguap.
“Ayo, lekas mandi. Abah siapkan sarapan dulu, kalau
sudah selesai mandi, sarapan, terus abah antar
ke sekolah.” Lena pun bergegas menuju kamar mandi. Lena memang
sudah berjanji, kalau sudah kelas 1 SD dia
tidak boleh malas lagi karena Lena sudah besar.
“Sini abah suapin...wah, putri abah sudah besar, sudah sekolah. Abah pesan nanti kalau di sekolah jangan nakal, perhatikan ibu guru ya.”
“Iya abah...” jawab Lena bersemangat. “Abah, Lena boleh tanya sesuatu?”
“Iya boleh, memang Lena mau
tanya apa?”
“Emak dimana? kok nggak pernah
pulang? Mendengar pertanyaan putrinya Abah menghentikan suapannya dan
menghela nafas panjang. Sejak kecil Lena memang tidak pernah mengetahui emaknya
berada dimana.
“Emak, berada di suatu tempat,
tempat yang paling indah...Lena tidak usah khawatir.”
“Dimana?”
“Pokoknya tempat yang paling
indah dari tempat mana pun di dunia ini. Ada taman dengan beribu macam bunga
dan beribu kupu-kupu yang hinggap kesana-kemari. Emak bahagia disana.”
“Lena boleh nyusul emak?
tanya Lena dengan polos.
“Boleh...tapi besok.”
“Besok kapan? Lena ingin
ketemu emak! ayo abah nyusul emak!” Abah
kebingungan harus menjawab apa lagi, abah tidak mungkin bercerita kejadian yang
sesungguhnya kalau ibunya sudah meninggal sewaktu melahirkan dirinya dan abah
pun hanya bisa menjawab seadanya untuk menyakinkan Lena.
“Sabar ya, abah janji
besok kalau abah punya banyak uang kita akan nyusul emak.”
“Kalau begitu, uang jajan Lena
dikurangi saja abah, terus ditabung biar kita bisa cepat nyusul emak.
Nanti Lena mau bawa oleh-oleh buat emak, biar emak senang.” tanpa
disadari, abah meneteskan air mata.
“Abah, kenapa menangis?
“Tidak apa-apa Lena, abah
senang, bahagia, abah bangga punya putri seperti Lena. Abah sayang
sama Lena...”
“Lena juga sayang sama abah,
sama emak juga.”
“Ya, sudah ayo siap-siap
berangkat jangan sampai hari pertama masuk sekolah terlambat.” Sambil dibonceng
sepeda oleh abahnya Lena tersenyum membayangkan yang akan terjadi ketika
bertemu emaknya.
“Lena harus belajar yang rajin
biar jadi orang pintar, kalau pintar bisa punya banyak uang, biar bisa nyusul emak.”
pikirnya.
Lena kecil paling senang
bermain hujan, ketika hujan datang, maka Lena akan berlari keluar rumah dan berjingkrak,
menari bersama hujan. Lena akan bercerita kepada hujan tentang kejadian yang
dia alami. Bercerita tentang suasana hatinya yang tidak menentu ketika membayangkan bertemu emaknya, bercerita tentang celananya
yang masih saja basah oleh ompol ketika
bangun tidur, tentang kehebatannya yang sudah bisa membentuk kupu-kupu pada tali sepatunya, tentang Abel, boneka beruang yang dibelikan abahnya saat Lena masuk sekolah kelas 1 SD, tentang kesedihan, tentang kebahagiaan, tentang
segalanya dan hujan pun seakan mendengarkan cerita Lena.
Bagi Lena hujan seperti seorang sahabat yang selalu
menemani hari-hari Lena. Selalu ada saat Lena membutuhkan, saat Lena dijauhi oleh teman-temannya. Lena kecil memang tidak pernah mempunyai seorang teman. Dia dianggap anak aneh oleh teman sebayanya. Kebiasaannya berjingkrak,
menari dan berbicara
sendiri saat hujan datang membuat Lena dijauhi oleh teman-temannya.
“Kata emak aku tidak boleh bermain denganmu!”
“Iya, aku juga!”
“Iya, kita semua!”
“Lho kenapa?” tanya Lena keheranan.
“Karena kamu aneh!”
“Iya, kamu aneh!”
“Aneh kenapa?” tanya Lena masih
keheranan.
“Kamu aneh! sering berbicara sendiri saat
hujan datang, lalu menari-nari, lalu berjingkrak. Pokoknya aneh!”
“Iya, aneh!”
“Aku tidak aneh! hujan
temanku, mereka sahabatku, aku
sering bercerita tentang hari-hariku kepada hujan dan hujan
membalasnya dengan senyum. Kalian juga teman-temanku, besok aku kenalkan dengan hujan dan kita akan berjingkrak, menari bersama hujan.”
“Tidak! Tidak mau! dan kita juga tidak mau berteman denganmu!”
“Iya, dasar aneh!
“Sudah kita tinggalkan saja
dia!”
“Anak aneh...anak aneh.” Mereka bernyanyi mengejek dan
mengelilingi Lena.
“Kalian jahat!” Lena
pun akhirnya pulang dengan menangis.
“Abah...”
sambil menangis sesenggukan dan berlari memeluk abahnya.
“Eh,
putri abah kenapa menangis?”
“Mereka
abah, mereka jahat sama Lena.” sambil terus menangis sesenggukan. Abah
yang bingung mendapati putrinya pulang sambil menangis mencoba bertanya tentang
sebab yang terjadi.
“Mereka
siapa? Jahat kenapa?” melihat anaknya masih sesenggukan abah pergi ke
dapur mengambil segelas air putih dan meminumkannya.
“Ini
diminum dulu, biar tenang.” dan Lena pun meminum segelas air yang diberikan
oleh abahnya.
“Sekarang
ceritakan kepada abah apa yang terjadi?”
“Mereka
abah, teman-teman Lena jahat, Lena dibilang anak aneh karena Lena sering
berbicara pada hujan dan berjingkrak saat hujan datang. Menurut abah,
Lena aneh?”
“Aneh?
Tidak! menurut abah Lena tidak aneh. Abah juga punya teman seperti Lena.”
“Siapa teman abah?” tanya Lena penasaran.
“Sini abah ceritakan,” sambil
menarik tubuh putrinya dan memangkunya serta membetulkan letak duduknya.
“Kalau Lena punya teman hujan, abah punya teman malam.”
“Kenapa malam abah? malamkan
menakutkan, gelap. Lena takut kalau keluar malam
hari dan orang-orang juga jarang keluar kalau malam
sudah datang.”
“Ya, malam memang gelap,
menakutkan. Bagi kebanyakan orang setiap malam datang pasti dilewatkan dengan
tidur, tapi tidak buat abah. Bagi abah malam seperti seorang
teman. Meskipun gelap dan menakutkan namun didalamnya menyimpan kedamaian yang
luar biasa. Di dalam malam abah bisa berdoa, berdzkir dengan khusuk
dan abah juga sering bercerita tentang Lena, tentang emak tentang
segalanya kepada malam. Sudah, lain kali abah ceritakan lagi tentang
malam, Sekarang ayo lekas mandi, sudah sore.” Lena pun beranjak dari pangkuan abahnya, kemudian berlari menuju kamar mandi.
Malam itu, tanpa diduga tiba-tiba hujan besar datang disertai angin dan
petir. Petir
meyambar pohon-pohon dan
mematahkan pohon tersebut hingga
menimpa sesuatu.
“Duaarrr...kraaak!”
Lena
yang terbangun oleh suara petir mulai
beranjak dari tempat tidurnya dan mulai mencari abah yang tidak didapati disampingnya.
“Abah…, abah dimana? Lena takut…” Angin yang sejak tadi bertiup dengan kencang menerbangkan
sebagian genteng rumah hingga air hujan masuk dan membasahi isi rumah. Lena
kecil yang ketakutan
akhirnya hanya bisa terdiam dibawah meja, menutup
dirinya dengan selimut sambil memeluk Abel dengan erat.
Hujan masih deras, angin
kencang, dan kilat menyambar-nyambar. Lena kecil
bingung, karena hujan, sahabatnya datang dengan marah
membawa angin dan kilat yang menyambar-nyambar. Lena pun menangis.
“Abel,
kenapa hujan datang dengan marah, kenapa? Abel, Lena takut...Abel, Abah dimana?” Lena terus-terusan bertanya pada Abel boneka beruangnya, meski Abel tidak akan pernah menjawab
pertanyaan Lena. Sepanjang malam, selama
hujan Lena pun hanya menangis, terus
bertanya pada kebingungan dan ketakutannya.
Keesokan harinya, hujan
masih belum benar-benar reda.
Hari masih diguyur hujan. Semua warga berduyun-duyun keluar rumah. Akibat
hujan dan terpaan angin yang terjadi
semalam hampir semua rumah roboh dan pohon-pohon tumbang.
“Puting beliung...puting beliung, kampung
kita terkena puting beliung! Petaka! Cepat cari warga yang masih bisa diselamatkan!” perintah kokolot1 kepada warganya. Mereka selanjutnya bekerja keras mencari warga yang masih bisa diselamatkan. Banyak warga yang meninggal gara-gara puting beliung yang terjadi
semalam, kebanyakan dari mereka tertimpa rumah yang roboh.
“Kampung kita sedang berduka, siapkan
upacara pemakaman untuk warga kita yang meninggal.” Pemakaman pun disiapkan, hari itu juga jenazah
disemayamkan, termasuk salah satunya adalah abah. Lena kecil bingung melihat abahnya yang dibungkus kain
putih, ikut tidur bersama sebagian warga yang menjadi korban.
“Abah kenapa? kenapa dibungkus kain putih?”
“Lena
sabar ya, abah sudah meninggal.” Salah
satu warga mencoba menenangkan Lena.
“Nggak! Nggak mungkin! Abah udah janji sama Lena mau ajak Lena ketempat emak. Abah, jangan tinggalkan Lena...Lena
takut sendiri, Lena tidak
tahu tempat emak.”
1) Kokolot dalam bahasa Sunda yang berarti sesepuh desa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar