Kamis, 15 Maret 2012

TIGA BELAS : EMPAT BELAS

Mulai dari mana ya enaknya #think :/

Gini aja ya, tahun 2012 ini tu banyak perubahan yang terjadi di setiap orang (terutama aku) :B
Mungkin menurut sebagian orang, tahun ini bisa mendatangkan kesialan mereka atau apalah. TAPI, kalo menurutku taun ini tu ada sesuatu yang BEDA! (lebay dikit gapapa kali ya) :3
Tapi kok bisa berurutan gini ya? Ni kan taun 2012 nih, nha dari angka 12 itu, ada angka 13 yang nyantol dihatinya angka 14 (kesambet apa ini kok jadi lebay banget -_-)
Enaknya ditulis 12 = 13 <3 14 atau 14 <3 13 = 12 ya? :/ sama ajalah keliatannya toh juga yang suka orangnya bukan angkanya #KRIK --" *takdumcessssss.

Pada mau tau nggak tentang si 13 = M itu? (ngapain tanya, toh juga gak ada yang bakal njawab) *takdumces
M itu orangnya baik, sabar, dan beda deh pokoknya sama yang lain :*
Tapi yang paling kusuka adalah............................. CEREWET-nya dia itu, yang bikin geregetan pengen diapain gitu XD (bercanda lho) :3

Dia punya banyak banget kebiasaan yang menonjol, diantaranya:
1. Cerewet
2. Suka minum kopi
3. Ngenet
4. Bangun kesiangan
5. Alhamdulillah, sabar banget dia kalo sama aku, tapi kalo sama orang lain tu dah nyente gak karuan ._.
ex: waktu di Taman Kvliner itu :D

Emm, udah dulu kali ya, takut yang mbaca pada muntah-muntah sampe mencret gak kettulungan kalo mbaca bahasaku yang gak karuan juga ini. Tapi jangan salah, yang 13 = M ini behhh, obat sgala penyakitku deh :*
I LOVE YOU "M" :*

13/M = MIS / Mrdss :*

Rabu, 01 Februari 2012

Hujan Masih Belum Reda Sepenuhnya


Hujan menyeruakkan aroma bau tanah.
Daun-daun meneteskan rintik-rintik hujan,
membawa pesan kehidupan kepada
yang dilaluinya.

Hari masih saja diguyur hujan saat Lena membuka mata, tangannya masih memeluk erat boneka beruang. Lena berjalan sambil terhuyung karena belum sadar betul dari tidurnya dan bingung melihat bagian depan rumah yang sudah roboh. Melihat keluar rumah banyak pohon-pohon tumbang, rumah roboh karena dihantam hujan dan angin semalam.
“Hujan marah?” pikir Lena “Tapi marah kenapa? Mengapa sampai merobohkan rumah-rumah, menumbangkan pohon-pohon? Hujan tidak mungkin melakukan semua ini. Hujan selalu membawa pesan kehidupan kepada tanah yang dilaluinya.” Lena ketakutan, pelukan terhadap boneka beruangnya semakin erat, matanya memandang jauh.
“Kenapa semuanya berubah dalam waktu semalam?”
  
“Lena, ayo lekas bangun sudah siang, nanti terlambat sekolah. Hari ini pertama masuk sekolahkan? katanya janji sama abah kalau sudah sekolah mau jadi anak yang rajin...” Abah mencoba membangunkan putrinya. Lena bangun dari tempat tidurnya sambil menguap.
Ayo, lekas mandi. Abah siapkan sarapan dulu, kalau sudah selesai mandi, sarapan, terus abah antar ke sekolah.” Lena pun bergegas menuju kamar mandi. Lena memang sudah berjanji, kalau sudah kelas 1 SD dia tidak boleh malas lagi karena Lena sudah besar.
Sini abah suapin...wah, putri abah sudah besar, sudah sekolah. Abah pesan nanti kalau di sekolah jangan nakal, perhatikan ibu guru ya.”
Iya abah...” jawab Lena bersemangat. “Abah, Lena boleh tanya sesuatu?”
Iya boleh, memang Lena mau tanya apa?”
 “Emak dimana? kok nggak pernah pulang? Mendengar pertanyaan putrinya Abah menghentikan suapannya dan menghela nafas panjang. Sejak kecil Lena memang tidak pernah mengetahui emaknya berada dimana.
Emak, berada di suatu tempat, tempat yang paling indah...Lena tidak usah khawatir.”
“Dimana?”
“Pokoknya tempat yang paling indah dari tempat mana pun di dunia ini. Ada taman dengan beribu macam bunga dan beribu kupu-kupu yang hinggap kesana-kemari. Emak bahagia disana.”
“Lena boleh nyusul emak? tanya Lena dengan polos.
“Boleh...tapi besok.”
“Besok kapan? Lena ingin ketemu emak! ayo abah nyusul emak!” Abah kebingungan harus menjawab apa lagi, abah  tidak mungkin bercerita kejadian yang sesungguhnya kalau ibunya sudah meninggal sewaktu melahirkan dirinya dan abah pun hanya bisa menjawab seadanya untuk menyakinkan Lena.
“Sabar ya, abah janji besok kalau abah punya banyak uang kita akan nyusul emak.” 
“Kalau begitu, uang jajan Lena dikurangi saja abah, terus ditabung biar kita bisa cepat nyusul emak. Nanti Lena mau bawa oleh-oleh buat emak, biar emak senang.” tanpa disadari, abah meneteskan air mata.
Abah, kenapa menangis?
“Tidak apa-apa Lena, abah senang, bahagia, abah bangga punya putri seperti Lena. Abah sayang sama Lena...”
“Lena juga sayang sama abah, sama emak juga.”
“Ya, sudah ayo siap-siap berangkat jangan sampai hari pertama masuk sekolah terlambat.” Sambil dibonceng sepeda oleh abahnya Lena tersenyum membayangkan yang akan terjadi ketika bertemu emaknya.
“Lena harus belajar yang rajin biar jadi orang pintar, kalau pintar bisa punya banyak uang, biar bisa nyusul emak.” pikirnya.
  
Lena kecil paling senang bermain hujan, ketika hujan datang, maka Lena akan berlari keluar rumah dan berjingkrak, menari bersama hujan. Lena akan bercerita kepada hujan tentang kejadian yang dia alami. Bercerita tentang suasana hatinya yang tidak menentu ketika membayangkan bertemu emaknya, bercerita tentang celananya yang masih saja basah oleh ompol ketika bangun tidur, tentang kehebatannya yang sudah bisa membentuk kupu-kupu pada tali sepatunya, tentang Abel, boneka beruang yang dibelikan abahnya saat Lena masuk sekolah kelas 1 SD, tentang kesedihan, tentang kebahagiaan, tentang segalanya dan hujan pun seakan mendengarkan cerita Lena.     
 Bagi Lena hujan seperti seorang sahabat yang selalu menemani hari-hari Lena. Selalu ada saat Lena membutuhkan, saat Lena dijauhi oleh teman-temannya. Lena kecil memang tidak pernah mempunyai seorang teman. Dia dianggap anak aneh oleh teman sebayanya. Kebiasaannya berjingkrak, menari dan berbicara sendiri saat hujan datang membuat Lena dijauhi oleh teman-temannya.
“Kata emak aku tidak boleh bermain denganmu!”
Iya, aku juga!”
Iya, kita semua!”
Lho kenapa?” tanya Lena keheranan.
“Karena kamu aneh!”
“Iya, kamu aneh!”
Aneh kenapa?” tanya Lena masih keheranan.
Kamu aneh! sering berbicara sendiri saat hujan datang, lalu menari-nari, lalu berjingkrak. Pokoknya aneh!”
Iya, aneh!”
Aku tidak aneh! hujan temanku, mereka sahabatku, aku sering bercerita tentang hari-hariku kepada hujan dan hujan membalasnya dengan senyum. Kalian juga teman-temanku, besok aku kenalkan dengan hujan dan kita akan berjingkrak, menari bersama hujan.”
Tidak! Tidak mau! dan kita juga tidak mau berteman denganmu!”
Iya, dasar aneh!
“Sudah kita tinggalkan saja dia!”
“Anak aneh...anak aneh.” Mereka bernyanyi mengejek dan mengelilingi Lena.
“Kalian jahat!” Lena pun akhirnya pulang dengan menangis.
            “Abah...” sambil menangis sesenggukan dan berlari memeluk abahnya.
            “Eh, putri abah kenapa menangis?”
            “Mereka abah, mereka jahat sama Lena.” sambil terus menangis sesenggukan. Abah yang bingung mendapati putrinya pulang sambil menangis mencoba bertanya tentang sebab yang terjadi.
            “Mereka siapa? Jahat kenapa?” melihat anaknya masih sesenggukan abah pergi ke dapur mengambil segelas air putih dan meminumkannya.
            “Ini diminum dulu, biar tenang.” dan Lena pun meminum segelas air yang diberikan oleh abahnya.
            “Sekarang ceritakan kepada abah apa yang terjadi?”
            “Mereka abah, teman-teman Lena jahat, Lena dibilang anak aneh karena Lena sering berbicara pada hujan dan berjingkrak saat hujan datang. Menurut abah, Lena aneh?”
            “Aneh? Tidak! menurut abah Lena tidak aneh. Abah juga punya teman seperti Lena.”
            “Siapa teman abah?” tanya Lena penasaran.
            “Sini abah ceritakan,” sambil menarik tubuh putrinya dan memangkunya serta membetulkan letak duduknya.
            “Kalau Lena punya teman hujan, abah punya teman malam.”
            “Kenapa malam abah? malamkan menakutkan, gelap. Lena takut kalau keluar malam hari dan orang-orang juga jarang keluar kalau malam sudah datang.”
            “Ya, malam memang gelap, menakutkan. Bagi kebanyakan orang setiap malam datang pasti dilewatkan dengan tidur, tapi tidak buat abah. Bagi abah malam seperti seorang teman. Meskipun gelap dan menakutkan namun didalamnya menyimpan kedamaian yang luar biasa. Di dalam malam abah bisa berdoa, berdzkir dengan khusuk dan abah juga sering bercerita tentang Lena, tentang emak tentang segalanya kepada malam. Sudah, lain kali abah ceritakan lagi tentang malam, Sekarang ayo lekas mandi, sudah sore.” Lena pun beranjak dari pangkuan abahnya, kemudian berlari menuju kamar mandi.
  
            Malam itu, tanpa diduga tiba-tiba hujan besar datang disertai angin dan petir. Petir meyambar pohon-pohon dan mematahkan pohon tersebut hingga menimpa sesuatu.
            “Duaarrr...kraaak!”
            Lena yang terbangun oleh suara petir mulai beranjak dari tempat tidurnya dan mulai mencari abah yang tidak didapati disampingnya.
            “Abah, abah dimana? Lena takut…” Angin yang sejak tadi bertiup dengan kencang menerbangkan sebagian genteng rumah hingga air hujan masuk dan membasahi isi rumah. Lena kecil yang ketakutan akhirnya hanya bisa terdiam dibawah meja, menutup dirinya dengan selimut sambil memeluk Abel dengan erat.
            Hujan masih deras, angin kencang, dan kilat menyambar-nyambar. Lena kecil bingung, karena hujan, sahabatnya datang dengan marah membawa angin dan kilat yang menyambar-nyambar. Lena pun menangis.
            “Abel, kenapa hujan datang dengan marah, kenapa? Abel, Lena takut...Abel, Abah dimana?” Lena terus-terusan bertanya pada Abel boneka beruangnya, meski Abel tidak akan pernah menjawab pertanyaan Lena. Sepanjang malam, selama hujan Lena pun hanya menangis, terus bertanya pada kebingungan dan ketakutannya.
            Keesokan harinya, hujan masih belum benar-benar reda. Hari masih diguyur hujan. Semua warga berduyun-duyun keluar rumah. Akibat hujan dan terpaan angin yang terjadi semalam hampir semua rumah roboh dan pohon-pohon tumbang.
             “Puting beliung...puting beliung, kampung kita terkena puting beliung! Petaka! Cepat cari warga yang masih bisa diselamatkan!” perintah kokolot1 kepada warganya. Mereka selanjutnya bekerja keras mencari warga yang masih bisa diselamatkan. Banyak warga yang meninggal gara-gara puting beliung yang terjadi semalam, kebanyakan dari mereka tertimpa rumah yang roboh.
            “Kampung kita sedang berduka, siapkan upacara pemakaman untuk warga kita yang meninggal.” Pemakaman pun disiapkan, hari itu juga jenazah disemayamkan, termasuk salah satunya adalah abah. Lena kecil bingung melihat abahnya yang dibungkus kain putih, ikut tidur bersama sebagian warga yang menjadi korban.
            “Abah kenapa? kenapa dibungkus kain putih?”
            “Lena sabar ya, abah sudah meninggal.” Salah satu warga mencoba menenangkan Lena.
            “Nggak! Nggak mungkin! Abah udah janji sama Lena mau ajak Lena ketempat emak. Abah, jangan tinggalkan Lena...Lena takut sendiri, Lena tidak tahu tempat emak.
                                                                                               

1) Kokolot dalam bahasa Sunda yang berarti sesepuh desa